Putin Mulai Gunakan Gas Bumi Untuk Peras Eropa

- Kamis, 12 Mei 2022 | 16:54 WIB
Foto: Pompa bensin kompresor, di Wloclawek, Polandia, dari pipa gas Yamal-Eropa, yang membawa gas dari ladang Yamal Peninsula Rusia, memasok 40% gas Eropa. (Foto oleh Omar Marques/Getty Images) (Omar Marques)
Foto: Pompa bensin kompresor, di Wloclawek, Polandia, dari pipa gas Yamal-Eropa, yang membawa gas dari ladang Yamal Peninsula Rusia, memasok 40% gas Eropa. (Foto oleh Omar Marques/Getty Images) (Omar Marques)

Oleh Con Coughlin*

Cara terbaik yang dapat Barat lakukan menanggapi upaya Rusia memeras Eropa supaya berhenti mendukung Ukraina adalah dengan memberikan perangkat keras militer yang dibutuhkan Ukraina untuk memenangkan perang.

Hingga kini, NATO mendukung Ukraina dengan memasok senjata untuk bertahan. Seperti rudal anti-tank, anti-pesawat dan anti-kapal. Hanya Polandia yang memasok persenjataan canggih. Dan itu dilakukannya sejak awal konflik. Warsawa berencana menyediakan 70 pesawat tempur Mig-29 Rusia era Soviet kepada Kyiv yang masih beroperasi di Polandia, Bulgaria dan Slovakia.

Kesepakatan itu sangat maju. Pilot Ukraina pun pergi ke Polandia untuk membawa pesawat itu melintasi perbatasan menuju negaranya.

Tetapi proposal itu akhirnya digagalkan oleh Pemerintahan Biden. AS bahkan menarik dukungannya. Alasannya, seperti dikatakan Jurubicara Pentagon John Kirby, Maret lalu, karena AS khawatir dukungan senjata itu menyebabkan konflik makin luas. Jadi konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO.

Baca Juga: Kekacauan Dunia Baru: Voting PBB atas Rusia Ungkapkan Politik Global

Padahal sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan TV CBS, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan bahwa Polandia mendapat “lampu hijau” untuk mengirimkan pesawat tempurnya kepada Ukraina.

Jadi, ada pesan kontradiktif antara Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS. Ia menggambarkan kebingungan di jantung Pemerintahan Biden tentang bagaimana menanggapi krisis Ukraina. Kebingungan itu membuatnya tidak banyak membantu militer Ukraina dalam pertempuran melawan Moskow yang punya senjata yang lebih unggul.

Keengganan Biden untuk menyetujui penjualan perangkat keras militer ke Kyiv adalah karena pemerintahannya diintimidasi Putin terkait dengan kuatnya persenjataan nuklir Rusia. Kenyataannya, ancaman itu tidak lebih dari gertakan. Itu tanda kelemahannya. Persoalanya kini jelas bahwa invasi Ukraina telah berubah menjadi bencana. Lebih jauh lagi, Pemerintahan Biden perlu belajar bahwa ia tidak boleh mundur setiap kali negara jahat, apakah itu Rusia atau Iran, menggunakan masalah nuklir untuk mengancam Barat.

Halaman:

Editor: Jacobus E. Lato

Sumber: Gatestone Institute

Tags

Terkini

Swedia Akan Memperkuat Aliansi NATO

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:17 WIB

Berbagai Rencana Taliban Pakistan

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:12 WIB

Putin Mulai Gunakan Gas Bumi Untuk Peras Eropa

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:54 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:33 WIB

Rusia dan Iran: Poros Kejahatan Baru

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:21 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 7 April 2022 | 16:31 WIB

Orang Kepercayaan Pada Masa Perang

Sabtu, 2 April 2022 | 21:24 WIB

Elon Musk dan Godaan Cina

Jumat, 1 April 2022 | 20:46 WIB

Kebebasan Berpendapat di Inggris?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 22:01 WIB

Akankah Prancis Tersadar lalu Bela Kemerdekaannya?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:52 WIB

Rusia dan Ukraina: Pedang dan Perisainya

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:46 WIB
X