Kekacauan Dunia Baru: Voting PBB atas Rusia Ungkapkan Politik Global

- Kamis, 12 Mei 2022 | 16:48 WIB
Hasil pemungutan suara untuk mengeluarkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB anggota Majelis Umum PBB terlihat di layar selama kelanjutan Sesi Khusus Darurat Kesebelas tentang invasi ke Ukraina pada 07 April 2022 di Kota New York. Majelis Umum PBB melanjutkan sesi khusus invasi ke Ukraina  (Michael M. Santiago)
Hasil pemungutan suara untuk mengeluarkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB anggota Majelis Umum PBB terlihat di layar selama kelanjutan Sesi Khusus Darurat Kesebelas tentang invasi ke Ukraina pada 07 April 2022 di Kota New York. Majelis Umum PBB melanjutkan sesi khusus invasi ke Ukraina (Michael M. Santiago)

Oleh Ahmed Charai*

Zona pertempuran terbaru perang Rusia-Ukraina kini berada di aula Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di sana, dunia memberikan voting atas invasi terbesar Rusia sejak Perang Dunia II. Ternyata, voting mengungkapkan keretakan dan celah dalam dukungan global untuk demokrasi.

Upaya menangguhkan status Rusia dari Dewan HAM PBB (UNHRC) menjadi masalah yang diajukan kepada para delegasi. Tapi setiap diplomat tahu pemungutan suara itu untuk serangan Rusia di Ukraina. Konsensus untuk demokrasi dan penentuan nasib sendiri rapuh. Hanya 93 negara (dari 193) memilih mengeluarkan Rusia dari UNHRC dan mengutuk aksinya atas Ukraina. Ada 24 negara lain (termasuk Cina) mendukung Rusia. Yang paling mengkhawatirkan, 58 negara abstain, menolak memihak. Yang lain khawatir harga energi, makanan dan pupuk akan terus naik jika konflik meningkat. (Baik Rusia dan Ukraina adalah produsen utama minyak, gas, gandum, dan pupuk petrokimia. Semuanya adalah masalah hidup dan mati bagi negara berkembang.) Rasa takut dan makanan lebih penting bagi banyak negara berkembang daripada cita-cita demokrasi.

Pembuat kebijakan Amerika dan Eropa harus hadapi kebenaran yang pahit. Bahwa, Rusia memang terisolasi secara diplomatis, tetapi dia tidak sepenuhnya sendiri. Banyak negara tidak berpihak pada Ukraina dan harapan demokrasinya.

Kehancuran Kota Kyiv tidak membuat Ukraina bisa harapkan bantuan. Para pemimpin Ukraina yang terpilih secara demokratis sadar bahwa mereka bisa ditangkap, dilukai, atau dibunuh. Mereka juga sadari bahwa sejarah sanksi, senjata pilihan koalisi Barat, menunjukkan bahwa mereka hampir selalu gagal menjinakkan penjajah. Semua fakta ini diketahui oleh para delegasi PBB. Memang, mereka mendengarnya langsung dari diplomat Ukraina. Tapi cita-cita yang tinggi dan keputusasaan Ukraina yang nyata tidak menggerakkan hati mereka.

Baca Juga: Bagaimana Palestina Menodai Tempat Suci Termasuk Milik Mereka

Mari kita lihat lebih dekat mengapa 100 negara putuskan tidak mendukung Ukraina dalam pemungutan suara PBB.

Di Afrika, Rusia menjalin hubungan dengan Libya, Republik Demokratik Kongo, dan Mali, dan sering menerapkan pola poskolonial, yang menunjukkan bahwa Rusia mendukung negara-negara berkembang yang merdeka atas bekas penguasa kolonial mereka. Retorika ini merupakan kelanjutan dari tema yang pertama kali dipromosikan era Uni Soviet, khususnya sejak 1950-an dan seterusnya.

Di Amerika Latin, anti-Amerikanisme berkembang di kalangan terpelajar. Mereka pun enggan mengkritik Putin. Ini diperkuat oleh pesan-pesan dari Kuba dan Venezuela.

Halaman:

Editor: Jacobus E. Lato

Sumber: Gatestone Institute

Tags

Terkini

Swedia Akan Memperkuat Aliansi NATO

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:17 WIB

Berbagai Rencana Taliban Pakistan

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:12 WIB

Putin Mulai Gunakan Gas Bumi Untuk Peras Eropa

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:54 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:33 WIB

Rusia dan Iran: Poros Kejahatan Baru

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:21 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 7 April 2022 | 16:31 WIB

Orang Kepercayaan Pada Masa Perang

Sabtu, 2 April 2022 | 21:24 WIB

Elon Musk dan Godaan Cina

Jumat, 1 April 2022 | 20:46 WIB

Kebebasan Berpendapat di Inggris?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 22:01 WIB

Akankah Prancis Tersadar lalu Bela Kemerdekaannya?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:52 WIB

Rusia dan Ukraina: Pedang dan Perisainya

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:46 WIB
X