Rusia dan Iran: Poros Kejahatan Baru

- Kamis, 12 Mei 2022 | 16:21 WIB
Negosiasi tentang Program Nuklir Iran - Menteri Luar Negeri dan Pejabat P5+1 lainnya dan Menteri Luar Negeri Iran dan Uni Eropa di Lausann
Negosiasi tentang Program Nuklir Iran - Menteri Luar Negeri dan Pejabat P5+1 lainnya dan Menteri Luar Negeri Iran dan Uni Eropa di Lausann

Oleh Con Cougghlin

Presiden AS Joe Biden membuat keputusan yang salah ketika memutuskan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang cacat dengan Iran. Akibatnya, dunia bakal segera menantikan terbentuknya "poros kejahatan" baru. Poros jahat Rusia - Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, mereka melakukan negosiasi untuk menghidupkan kembali perjanjian itu. Nama resminya, Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action Joint Comprehensive Plan of Action ---JCPOA). Tempat perundingannya, Wina (Austria). Dilaporkan, para perunding Barat mengaku prihatin dengan dukungan negatif yang diterima Iran dari Rusia dalam pembicaraan tersebut.

Negosiasi tidak fokus pada isu-isu penting. Seperti soal kegiatan pengayaan nuklir Iran yang diyakini oleh pejabat intelijen Barat sebagai bagian dari upaya Teheran untuk mengembangkan senjata nuklir. Justru sebaliknya, Rusia mendorong tim perunding Iran untuk fokus pada masalah yang relatif kecil. Seperti lokasi kamera pemantau di instalasi nuklir utama Iran, yang memang penting untuk memantau fasilitas pengayaan mereka.

Pejabat keamanan Barat kini yakin bahwa Iran dan Rusia telah sepakat bekerja sama menghindari sanksi Barat begitu kesepakatan nuklir baru disetujui oleh Pemerintahan Biden.

Baca Juga: Macron Kembali Terpilih Jadi Presiden Prancis dan Kaum Nasionalis Tersingkir Jadi Minoritas di Negeri Sendiri

Iran pun sudah membentuk sistem perbankan dan keuangan rahasia untuk mengelola puluhan miliar dolar hasil perdagangan tahunan yang dilarang berdasarkan sanksi yang dipimpin AS.

Menurut Wall Street Journal, sistem keuangan Iran mencakup berbagai rekening negeri itu di bank komersial asing, perusahaan antek yang terdaftar di luar negeri, perusahaan yang mengoordinasikan perdagangan terlarang serta sebuah transaksi lembaga kliring atau badan usaha yang membantu sekaligus menjamin penyelesaian transaksi perdagangan berjangka di Iran.

Kremlin sungguh-sungguh berusaha mencari cara menghindari sanksi Barat yang dijatuhkan sebagai balasan atas keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin menginvasi Ukraina tanpa alasan. Ekonomi Rusia memburuk. Nilai mata rubel misalnya, kehilangan setengah nilainya sejak awal tahun.

Halaman:

Editor: Jacobus E. Lato

Sumber: Gatestone Institute

Tags

Terkini

Swedia Akan Memperkuat Aliansi NATO

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:17 WIB

Berbagai Rencana Taliban Pakistan

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:12 WIB

Putin Mulai Gunakan Gas Bumi Untuk Peras Eropa

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:54 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:33 WIB

Rusia dan Iran: Poros Kejahatan Baru

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:21 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 7 April 2022 | 16:31 WIB

Orang Kepercayaan Pada Masa Perang

Sabtu, 2 April 2022 | 21:24 WIB

Elon Musk dan Godaan Cina

Jumat, 1 April 2022 | 20:46 WIB

Kebebasan Berpendapat di Inggris?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 22:01 WIB

Akankah Prancis Tersadar lalu Bela Kemerdekaannya?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:52 WIB

Rusia dan Ukraina: Pedang dan Perisainya

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:46 WIB
X