Macron Kembali Terpilih Jadi Presiden Prancis dan Kaum Nasionalis Tersingkir Jadi Minoritas di Negeri Sendiri

- Kamis, 12 Mei 2022 | 16:05 WIB
Kaum globalis menang di Prancis dengan terpilih kembalinya Emmanuel Macron sebagai Presiden Republik Prancis, 24 April 2022 lalu dengan perkiraan 58% suara. Marine Le Pen, penantangnya, hanya mendapat 42% suara. Foto: Macron berbicara pada rapat umum selama malam pemilihan, 24 April 2022 di Paris, P (Jeff J Mitchell)
Kaum globalis menang di Prancis dengan terpilih kembalinya Emmanuel Macron sebagai Presiden Republik Prancis, 24 April 2022 lalu dengan perkiraan 58% suara. Marine Le Pen, penantangnya, hanya mendapat 42% suara. Foto: Macron berbicara pada rapat umum selama malam pemilihan, 24 April 2022 di Paris, P (Jeff J Mitchell)


Oleh Yves Mamou*

Kaum globalis menang. Emmanuel Macron terpilih kembali sebagai Presiden Prancis, 24 April 2022. Dengan 58% suara. Marine Le Pen, penantangnya, hanya meraih 42% suara.

Pemilu Presiden Prancis ini merupakan ilustrasi bagus tentang konflik di Barat. Pertarungan antara yang bergerak dan yang berakar. Antara globalis dan nasionalis. Antara elit progresif dan warga biasa. Antara mereka yang merasa baik di mana-mana dan mereka yang merasa baik di tanah kelahiran mereka.

Namun konflik klasik Prancis tidak dianggap demikian. Sejak akhir 1980-an, politik Prancis dibangun di atas fiksi. Siapa pun penentangnya, seperti soal kebijakan imigrasi, penindasan perempuan dan kebebasan berbicara dalam Islam, dianggap setara dengan keponakan Adolf Hitler.

Situasi aneh ini diciptakan pada akhir 1980-an oleh Presiden François Mitterrand. Untuk memecah belah kaum kanan dan mencegah mereka kembali berkuasa. Ia lalu promosikan partai sayap kanan, Front Nasional. Partai ini yang pertama berani menentang imigrasi.

Baca Juga: Jalan Sunyi Lektol. Dr Soebandi, TVRI Tayang Nasional Kamis 13 Mei 2022 Pukul 11.00-11.30 WIB

Hingga kini, media dan "kaum kiri" menstigmatisasi penentang imigrasi atau yang kurang simpatik terhadap Islam sebagai "rasis" dan "Nazi." Akibatnya, sebelum Pemilu presiden berakhir, semua pengamat merasa bahwa sedang terjadi antara Kebaikan dan Kejahatan.

Harian Le Monde menurunkan tulisan sosiolog seperti Edgar Morin untuk menegaskan bahwa Prancis menghadapi "risiko bersejarah" jika warganya kehilangan akal sehat dan memilih Marine Le Pen (MLP). Dalam artikel lain, Le Monde mengutip wakil negara bagian Prancis yang "menyamakan" antara kemungkinan memilih MLP dan invasi Prancis oleh Nazi pada 1940.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin menjelaskan bahwa dengan MLP, "orang kaya boleh turun berat badannya, tapi yang miskin bisa mati".

Beberapa media sayap kiri, seperti L'Obs, mengangkat momok perang nuklir. "Jika Marine Le Pen terpilih, "48.000 Hiroshima" akan menjadi mungkin. Radio pemerintah setiap lima menit mengatakan bahwa MLP itu "ekstrim kanan" (artinya dia "rasis" dan "Nazi").

Halaman:

Editor: Jacobus E. Lato

Sumber: Gatestone Institute

Tags

Terkini

Swedia Akan Memperkuat Aliansi NATO

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:17 WIB

Berbagai Rencana Taliban Pakistan

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:12 WIB

Putin Mulai Gunakan Gas Bumi Untuk Peras Eropa

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:54 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:33 WIB

Rusia dan Iran: Poros Kejahatan Baru

Kamis, 12 Mei 2022 | 16:21 WIB

Terorisme, Ukraina, Taiwan dan Perang Alih Daya

Kamis, 7 April 2022 | 16:31 WIB

Orang Kepercayaan Pada Masa Perang

Sabtu, 2 April 2022 | 21:24 WIB

Elon Musk dan Godaan Cina

Jumat, 1 April 2022 | 20:46 WIB

Kebebasan Berpendapat di Inggris?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 22:01 WIB

Akankah Prancis Tersadar lalu Bela Kemerdekaannya?

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:52 WIB

Rusia dan Ukraina: Pedang dan Perisainya

Sabtu, 19 Maret 2022 | 21:46 WIB
X